
Dulu ketika masih SD kegiatan yang paling
sering dilakukan anak-anak SD pada waktu sore hari adalah belajar
mengaji, aku pun demikian. Banyak anak-anak yang berangkat ke Madrasah yang
letaknya tidak jauh dari area perumahan atau perkampungan untuk belajar
mengaji. Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, orang tuaku memilihkan jalur
belajar mengaji dengan menggundang guru privat untuk datang kerumah. Guru
ngajiku adalah Mas Darmaji, aku masih ingat namanya, orang yang mengajariku
mengaji dari SD entah kelas berapa hingga lulus SD. Pelajaran mengaji biasanya
dimulai pukul 3 sore, Mas Darmaji akan datang kerumah kemudian sebelum mengaji
mengajak untuk sholat ashar berjamaah terlebih dahulu kemudian baru mulai
mengajari mengaji kepadaku. Pada mulanya aku hanya belajar mengaji sendirian,
hanya ada aku dan Mas Darmaji, namun beberapa waktu kemudian tetanggaku
mengikutkan anaknya untuk belajar mengaji bersama denganku di rumahku.
Namanya adalah Tika, usianya sama denganku tapi aku lebih sering memanggilnya
mbak Tika, mungkin karena pada saat itu badanku masih kecil dan badan mbak Tika
lebih besar jadi terlihat lebih tua dari pada aku. Mas Darmaji bukan orang yang
on time, kadang suka datang telat, kadang suka datang telaaaat banget, kadang
malah engga datang. Jaman dahulu beda dengan jaman sekarang, yang kalau saat
ini ada sesuatu orang bisa dengan mudah telfon buat ngasih kabar atau
memberitahu kalau datang telat atau malah engga datang. Pada waktu itu telpon
belum begitu banyak, telpon merupakan barang mewah dan engga setiap orang punya
telpon, jadi kita harus menunggu untuk
sekedar tahu apa guru privatnya datang atau tidak.
Setiap hari kita berdua menunggu
kedatangan Mas Darmaji untuk mengajari kita mengaji, sambil nunggu Mas Darmaji
kita ngobrol di dalam kamar sambil bercanda-canda, kadang kita main
lempar-lempar bantal atau main yang lain. Kadang karena keasikan main kita
malah engga tahu kalau Mas Darmaji ternyata udah didepan pintu atau malah udah
masuk keruang belajar, gara-gara itu kita kadang sering dimarahin. Tapi kita
nemu cara supaya meskipun kita main di dalam kamar kita masih tetep tahu kalau
Mas Darmaji datang. Yup jendala kamar tempat kita nunggu dan main dibuka
sedikit, jadi pada saat kita main kita masih bisa mengintip lewat jendela apa
Mas Darmaji sudah datang dengan mengayuh sepedayanya sebelum masuk ke halaman
rumah. Jadi kita bisa buru-buru duduk ditempat belajar biar kelihatan kayak
anak rajin gitu pas gurunya datang. Setiap hari sambil menunggu dan becanda
kita pasti lihat lewat jendala itu buat liat Mas Darmaji guru privat kita yang
berambut gondrong memakai peci hitam bersarung dan mengayuh sepeda tuanya
datang untuk mengajari kita mengaji. Jendela yang
menyimpan banyak cerita dibaliknya.
