http://jombloo.co/bersiap-sakit-hati-pelajaran-berharga-dari-miss-universe
Rabu, 23 Desember 2015
Minggu, 08 November 2015
Senin
Banyak banget hal yang jadi waitinglist di kepala beberapa hari ini. mulai dari ngerjain revisian yang harusnya udah ada progres tapi malah nol karena kampus yang tutup beberapa hari karena ada kegiatan, datengin rapat keluarga lah karena bentar lagi ada yang mau nikahan sodaraku, betulin alquran elektrik punya ibu yang rusak dan engga tau tempat betulinnya dimana, ikut undangan tes yang belum aku siapin sama sekali buat besok, belum ngunjungin nenek juga sehabis aku wisuda kemarin, dan berbagai hal lain yang musti aku lakuin. Hari senin, harus udah mulai warming up semangat sama pikiran, mulai gerakin badan nyeselaikan satu-persatu waitinglist di kepala. Yak semoga ada progres yang baik hari ini. Buat kebo guling disana buruan bangun yeee mentang-mentang kemarin sibuk dan kurang tidur sekarang masih molor. Good Morning! semangat pagi guyss....
Jumat, 02 Oktober 2015
Sudah Diputuskan
Ada hal yang memang harus dipikirkan lama, kembali lagi dipikirkan dan berulang terus. Namun akhirnya terkadang bukan keputusan yang baik yang diambil. Ada kalanya keputusan yang diambil justru buruk tidak mengenakkan tapi memang harus dijalani jika ingin baik kedepannya nanti. Ketergantungan yang tanpa disadari sudah lama ada, kebaikan yang ada, pemberian yang biasanya ada, bayangan yang selalu menempel, aku memilih berjalan sendiri terlepas dari semua yang dulu telah ada. Jadi ini yang sudah diputuskan.
Minggu, 20 September 2015
Kucing dan Manusia
Cerita ini sudah lama
ingin aku tulis, tapi entah mengapa baru bisa aku selesaikan sekarang. Banyak kesibukan
akhir-akhir ini yang harus diutamakan. Ngerjain laporan yang udah dikejar
deadline pengumpulan juga bikin pusing dan capek.
Dirumah sodaraku memiliki dua ekor
kucing, sebenarnya hanya memelihara 1 ekor tapi tiba-tiba kucing luar juga ikut
masuk dan udah biasa minta makan disini jadi dianggap saja ada dua ekor. Yang satu
warnanya hitam putih udah dipelihara sodaraku sejak masih kecil namanya Kimi,
usianya sekarang udah 5 tahun lebih udah tua dan banyak luka bekas tawuran sama
kucing lain. Kucing yang satunya lagi adalah kucing dari luar yang ikut makan
disini namanya Belang. Satu minggu kemarin entah dari mana si Belang ini
pacaran dengan kucing cewek yang asalanya entah dari mana, si Belang dengan
kucing cewek yang warnanya juga sama belangnya ini pasti ngikutin si kucing
cewek ini, kurang lebih mereka selalu bersama 3-5 hari. Main di kolong mobil
berdua, makan juga berdua, lari-lari juga berdua. Beberapa hari si Belang dan
pacarnya ini terlihat mesra dan selalu bersama.
Namun beberapa hari kemudian ada
kucing dari kampung sebelah, warnanya putih besar tiba-tiba datang dan si
Belang ini engga suka. Akhirnya pada malam harinya si Belang sama si kucing
putih ini berantem alias adu cakar semalaman. Dan pada akhirnya si Belang ini
kalah berantem ama kucing putih itu. Si Belang lari karena kalah, menjauhi
kucing putihnya itu, dan ternyata pacarnya si Belang yang beberapa hari selalu
bersama ini langsung mengalihkan hatinya untuk kucing putih yang menang
berantem lawan si Belang ini. Akhirnya kucing ceweknya ikut pergi sama kucing
putih itu, udah ilang engga tahu kemana ya pergnya.
Kejadian yang baru aku ngerti adalah
ketika kucing kalah berantem dan ceweknya ini lebih milih yang menang berantem,
si kucing yang kalah ini galau nyariin pacarnya yang udah pindah ke lain hati. Semenjak
kejadian itu si Belang kerjaannya cuma tidur (walaupun memang tiap hari juga
kerjaannya tidur) dan lebih engga enaknya lagi si belang ini ngeluarin “meongan
rintihan”. Meongan rintihan ini bisa di definisikan seperti meongan biasa tapi
dengan suara yang parau penuh kesedihan. Dan masalahnya ini dilakukan hampir
sepanjang hari sambil nyari-nyari dimana kucing cewek yang dulu.
Kalau kita lihat dari cerita di atas
yang salah dan bikin situasi seperti ini sebenrnya adalah si Belang itu
sendiri. Salah siapa kalah berantem, engga strong lawan kucing kampung lain,
akhirnya kucing ceweknya lihat kalau ada yang lebih strong dan lebih milih si
Putih dari pada si Belang. Dalam hal ini kucing ceweknya bertindak rasional,
ketika ada kucing jantan yang lebih besar lebih kuat maka pilihan terbaik
adalah memilih dia. Mungkin dengan berbagai pertimbangan nantinya kalau
memutuskan berumah tangga sama si Putih maka kehidupannya akan lebih terjamin
dari pada sama si Belang. Mungkin dia si
kucing cewek ini berpikir akan lebih mendapat pemenuhan kebutuhan hidup
dicukupin sama si Putih ini, bisa ngasih makanan, ngasih tempat tinggal, rumah,
mobil, dan pendidikan buat anak-anaknya kelak. Dan yang kalah dalam hal ini si
Belang cuma bisa galau meratapi kepergian kucing cewek yang ditaksir dan
dicintainya.
Bukankah hal ini hampir sama seperti
dikehidupan manusia juga ya. Tapi tentu tidak bisa disamakan secara keseluran
dan tidak mungkin semuanya sama persis. Karakter yang ada pada kucing cewek ini
hampir sama dengan cewek rasional yang ada saat ini. Kalau ditanya akan memilih
laki-laki yang seperti apa jika diibaratkan dengan si Belang dan si Putih tentu
cewek yang rasional akan memilih cowok yang seperti si Putih yang bisa memenangi
pertarungan. Tentu pertarungan disini bukan berantem ala kucing ya, disini
berarti harus bisa kuat dan mampu untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan si
cewek. Engga peduli kalau pasangannya itu udah kenal lama atau udah pacaran
lama kalau ada yang lebih baik dan lebih mampu ya sebaiknya pilih yang lebih
baik walaupun baru kenal tentunya. Kalau begitu intinya agar keadaan tidak
berjalan dengan buruk maka jadilah seperti si Putih jangan seperti si Belang,
jangan kalah dan harus menang.
Sabtu, 12 September 2015
Vie
Vie, inilah nama dari blog yang aku pakai ini,,, awalnya aku bingung mau kasih nama
apa, dan akhirnya aku teringat temenku yang anak sastra Perancis akhirnya aku
putuskan milih kata dari bahasa Perancis buat namain blog ini.
Arti dari Vie adalah
kehidupan, iya blog ini pasti memuat cerita dari kehidupan penulisnya dan
kehidupan pasti banyak cerita yang ada disana inilah yang ingin aku masukkan
dan tulis di blogku ini.
Terkadang dalam
kehidupan banyak hal terjadi mulai dari yang baik sampai yang buruk. Kita pasti
ingin menghapus kejadian atau pengalaman buruk yang terjadi dalam hidup kita,
tapi itu engga mungkin. Di blog ini kadang ada postingan yang aku rasa kurang
baik atau terlalu dalam memakai perasaan aku hapus setelahnya, namun apa yang
dirasain juga bisa dihapus oleh penulisnya ? tentu aja enggak......
Di postingan terakhirku
sebelum ini sudah aku hapus, aku udah
mutusin buat engga nulis lagi karena alasan tertentu. Tapi disini karena ada
alasan tertentu yang aku sendiri belum yakin pasti mulai nulis lagi di blog
ini. Mungkin ketidak pastian itu ya seperti kehidupan ini ya selalu tidak
pasti.
Banyak ide yang ada di
otak selama waktu berhenti menulis, bahkan ada yang udah lupa ide-ide yang ada
dulu. Postingan yang ada disini bukanlah tulisan yang berisi informasi penting
atau pengetahuan. Aku jamin disini isinya engga jelas, hanya ketikan-ketikan
pemikiran atau imajinasi yang ada. Aku juga engga ngerti siapa yang bakal baca
tulisan-tulisan yang engga jelas seperti ini. Kadang kita hanya ingin berbagi
cerita dalam kehidupan, kadang sudah ada yang memiliki tempat untuk berbagi..
aku ? hmmmmmm kadang bisa berbagi kalau hubungan lagi baik kadang juga engga
kalau lagi ada masalah. Menulis apa yang ada dalam hati bisa melegakan hati itu
sendiri, jika senang maka bisa bikin lebih senang lagi, bila sedih kadang bisa
sedikit melegakan hati atau berharap orang yang bikin sedih tau dan bisa baik
lagi.
Vie adalah kehidupan,
kehidupan dari aku penulis blogku ini..............
Sabtu, 11 Juli 2015
Untuk Seseorang
Hari ini mendung, awan menyelimuti langit tempatku berada. Rasa
sakit yang tak tertahankan namun tak mengeluarkan air mata, hanya mengalir di
dalam tidak nampak diluar.
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai
kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang
telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan
dari jaring benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan
rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan
sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya
sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam
benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang
hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal dalam
sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.
Bagaimana mungkin.
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.
Jumat, 03 Juli 2015
Yang Aku Tinggalkan
Aku dulunya memiliki
sebuah rencana, rencana yang sudah ku perhitungkan matang-matang, dengan
simulasi keadaan terburuk, dan dengan waktu yang relatif terbatas, untuk
mencapai sesuatu. Rencana ini aku yang membuatnya, bersama seorang temanku yang
memperhatikanku saat aku membuat rencana ini. Dia sebagian besar hanya melihat,
dan mengangguk-angguk dengan apa yang aku katakan. Aku jelaskan kepadanya
tentang rencanaku ini, dari mulai tahap awal, estimasi waktu, situasi keadaan,
sampai kemungkinan hasil akhir, dia hanya bergumam dan mengangguk-angguk
mengerti dengan apa yang aku tuliskan. Hal yang aneh pada akhirnya adalah
temanku melaksanakan semua rencana awal yang aku susun sendiri, sedangkan aku
justru entah mengikuti rencana yang mana. Aku baru sadar ternyata aku tidak
mengikuti rencanaku sendiri, sedangkan temanku dengan gigihnya melakukan apa
yang aku katakan. Sepertinya membuat solusi untuk orang lain itu mudah, namun
untuk diri sendiri kadang tidak seperti yang aku kira. Hal yang benar-benar
membedakan adalah dia lurus menjalankan apa yang aku katakan, sedangkan aku
lebih memilih jalan berliku yang lebih jauh untuk mendapat hasil yang sama
namun dengan jalan yang berbeda.
Perasaan seperti ini
muncul mungkin karena rasa serakah dan menginginkan segala sesuatunya, padahal
aku tahu tidak mungkin untuk mendapatkan semua yang kita inginkan sekaligus.
Melihat dirinya mendapat
apa yang aku rencanakan membuatku merasa seharusnya aku juga seperti itu, namun
mungkin bagi dirinya hal yang sama juga muncul dalam pikirannya, mungkin dia
juga ingin merasakan perjalanan berliku yang penuh pengalaman.
Kedua hal ini dibedakan
melalui cabang yang memang tidak mungkin untuk mendapatkan keduanya. Aku
membuat jalan sebelah kiri yang terlihat lurus dan langsung menuju ketempat
tujuan ketika dilalui, namun ternyata aku lebih penasaran dengan jalan sebelah
kanan yang entah itu jalan seperti apa, jalan yang berkelok melalui berbagai
tempat dan pengalaman baru.
Keputusan sudah diambil,
dan inilah hasilnya dari apa yang aku lalui dan aku peroleh. Selamat untukmu
temanku yang menjalankan rencanaku sampai akhir, dimana aku justru
meninggalkannya.
Selasa, 30 Juni 2015
Dibalik Jendela

Dulu ketika masih SD kegiatan yang paling
sering dilakukan anak-anak SD pada waktu sore hari adalah belajar
mengaji, aku pun demikian. Banyak anak-anak yang berangkat ke Madrasah yang
letaknya tidak jauh dari area perumahan atau perkampungan untuk belajar
mengaji. Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, orang tuaku memilihkan jalur
belajar mengaji dengan menggundang guru privat untuk datang kerumah. Guru
ngajiku adalah Mas Darmaji, aku masih ingat namanya, orang yang mengajariku
mengaji dari SD entah kelas berapa hingga lulus SD. Pelajaran mengaji biasanya
dimulai pukul 3 sore, Mas Darmaji akan datang kerumah kemudian sebelum mengaji
mengajak untuk sholat ashar berjamaah terlebih dahulu kemudian baru mulai
mengajari mengaji kepadaku. Pada mulanya aku hanya belajar mengaji sendirian,
hanya ada aku dan Mas Darmaji, namun beberapa waktu kemudian tetanggaku
mengikutkan anaknya untuk belajar mengaji bersama denganku di rumahku.
Namanya adalah Tika, usianya sama denganku tapi aku lebih sering memanggilnya
mbak Tika, mungkin karena pada saat itu badanku masih kecil dan badan mbak Tika
lebih besar jadi terlihat lebih tua dari pada aku. Mas Darmaji bukan orang yang
on time, kadang suka datang telat, kadang suka datang telaaaat banget, kadang
malah engga datang. Jaman dahulu beda dengan jaman sekarang, yang kalau saat
ini ada sesuatu orang bisa dengan mudah telfon buat ngasih kabar atau
memberitahu kalau datang telat atau malah engga datang. Pada waktu itu telpon
belum begitu banyak, telpon merupakan barang mewah dan engga setiap orang punya
telpon, jadi kita harus menunggu untuk
sekedar tahu apa guru privatnya datang atau tidak.
Setiap hari kita berdua menunggu
kedatangan Mas Darmaji untuk mengajari kita mengaji, sambil nunggu Mas Darmaji
kita ngobrol di dalam kamar sambil bercanda-canda, kadang kita main
lempar-lempar bantal atau main yang lain. Kadang karena keasikan main kita
malah engga tahu kalau Mas Darmaji ternyata udah didepan pintu atau malah udah
masuk keruang belajar, gara-gara itu kita kadang sering dimarahin. Tapi kita
nemu cara supaya meskipun kita main di dalam kamar kita masih tetep tahu kalau
Mas Darmaji datang. Yup jendala kamar tempat kita nunggu dan main dibuka
sedikit, jadi pada saat kita main kita masih bisa mengintip lewat jendela apa
Mas Darmaji sudah datang dengan mengayuh sepedayanya sebelum masuk ke halaman
rumah. Jadi kita bisa buru-buru duduk ditempat belajar biar kelihatan kayak
anak rajin gitu pas gurunya datang. Setiap hari sambil menunggu dan becanda
kita pasti lihat lewat jendala itu buat liat Mas Darmaji guru privat kita yang
berambut gondrong memakai peci hitam bersarung dan mengayuh sepeda tuanya
datang untuk mengajari kita mengaji. Jendela yang
menyimpan banyak cerita dibaliknya.
Sabtu, 20 Juni 2015
"Iya"
Kemarin, entah mengapa harus berakhir dengan rasa kecewa. Ternyata hanya untuk berkata "iya" kepada keinginan kecil tidaklah lah semudah yang aku kira. Kata "iya" yang mungkin bisa membuat seseorang merasa sangat senang dan bahagia, kata "iya" yang mungkin bisa membuat orang menjalani harinya dengan semangat, kata "iya" yang mungkin bisa menenangkan hati dan perasaan orang lain.
Aku kecewa bukan karena orang lain, tapi karena diri sendiri yang sebenarnya membuatku kecewa sendiri. Kadang terlalu berharap lebih terhadap sesuatu yang sangat diinginkan, sehingga membuat ekspektasi tentang hal itu menjadi besar, dan apa ? ketika tidak terpenuhi kita akan merasa kecewa. Seperti kata Shakespeare, "Expectation is the root of all heartache". Kecewa itu bukan marah atau ngambek, kecewa itu ya kecewa, udah.
Jumat, 19 Juni 2015
Tepian Sungai
Tepian sungai terisi air mengalir pelan
Dengan suara-suara serangga saling bersahutan
Aku masih disini merenung bersama senja yang semakin tenggelam
Memikirkan apakah aliran hidupku akan sama seperti aliran sungai ini
Entahlah hanya Allah yang tahu pasti
Aku hanya bisa merenung menduga tidak pasti
Sebaiknya aku pergi dari sini
Kembali ke kehidupan yang lebih asli
Dengan segala tugas dan pekerjaan yang harus dilalui
Untuk menggapai mimpi suatu hari nanti
Dengan suara-suara serangga saling bersahutan
Aku masih disini merenung bersama senja yang semakin tenggelam
Memikirkan apakah aliran hidupku akan sama seperti aliran sungai ini
Entahlah hanya Allah yang tahu pasti
Aku hanya bisa merenung menduga tidak pasti
Sebaiknya aku pergi dari sini
Kembali ke kehidupan yang lebih asli
Dengan segala tugas dan pekerjaan yang harus dilalui
Untuk menggapai mimpi suatu hari nanti
Kamis, 18 Juni 2015
Nilai
Berharga atau tidak ternilainya sesuatu itu relatif bagi setiap orang. Kadang ada masanya dimana sesuatu yang tidak berharga menjadi sangat berharga, dan ada pula dimana sesuatu yang sangat berharga menjadi tidak bernilai.
Bagi sebagian orang sesuatu yang mereka anggap biasa mungkin memiliki nilai yang tidak tergantikan bagi orang lain. Kadang orang lain dengan mudahnya membuang sesuatu itu dimana bagi kita berharap dan mengemis untuk memilikinya.
Kadang pemberian dari orang akan sangat berarti bagi kita, bahkan jika sang pemberi itu tidak terlalu menganggap penting barang pemberiannya. Perasaan seperti ini biasanya muncul jika sesuatu itu adalah pemberian dari orang yang khusus memiliki tempat tersendiri di hati kita.
Rabu, 17 Juni 2015
Berangkat
Pagi ini tepat pukul 07.00 aku telah sampai di terminal, aku menunggu bus untuk berangkat ke Kota Semarang untuk bisa fokus mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabku. Tidak berapa lama aku menunggu akhirnya bus yang akan mengantarku telah datang, aku bergegas masuk ke dalam namun sungguh sayang, ternyata bus telah penuh dengan penumpang, sehingga aku dan penumpang lainnya hanya bisa berdiri saling merapat dan berhadapan. Aku berpikir, sampai berapa lama aku harus berdiri, jangan-jangan sampai akhir tempat tujuan harus terus berdiri. Kondisi badan yang belum sehat benar dari sakitku membuatku mulai mengeluarkan keringat dingin, tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya. Dalam penuh sesaknya orang-orang aku memandang jendela dan melihat pemandangan yang dipenuhi dengan sawah dan bangunan kecil. Aku mulai berpikir, apa yang nantinya harus aku tulis, tapi tak kunjung aku mengerti apa yang ingin aku tuliskan. Tak terasa aku telah berdiri satu setengah jam lamanya, terpontang-panting dengan orang-orang disekelilingku karena akselerasi dan juga hentakan rem dari supir yang mengemudikan kendaraannya. Sampai pada Kota Kudus aku melihat sudah ada beberapa penumpang yang mulai turun dan meninggalkan sedikit ruang dalam bus. Silih berganti penumpang datang dan pergi, namun aku masih tetap berdiri, hingga baru aku mulai sadar bahwa disekelilingku banyak perempuan-perempuan yang berdiri rapat. Dalam hati terbersit sedikit rasa senang karena ruang dalam bus sudah tidak terlalu berdesak-desakan. Perasaan nyaman yang ada ternyata hanyalah sementara, sebab beberapa saat kemudian terjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan dalam perjalanan kali ini. Dari arah pintu belakang masuk seorang pemuda berbadan kurus, wajah tirus, berkulit coklat, dan membawa cermin langsung dengan lincahnya merangsak masuk ketengah tepat dibelakangku. Aku bertanya-tanya apa gerangan orang ini memilih tempat dekat denganku. Sesaat kemudian jawaban dari pertanyaanku akhirnya muncul dengan sendirinya. Ternyata mas-mas ini BENCOOOOONG Cyiiiiiin!!!!!!!!! cara bicaranya lemah gemulai dan feminim, sungguh bertolak belakang dengan wajah yang dia punya. Hal ini ternyata belum cukup membuatku kaget dan shock, beberapa saat kemudian si mas bencong ini melakukan sesuatu. Mas bencong ini tiba-tiba bernyanyi (alias ngamen) tanpa alat musik dan hanya menggunakan pita sura.............................................. 5 detik aku mendengar suara nyanyiannya, dalam benak kepalaku aku merasa miris, makhluk apa ini ya Allah. Tidak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan suara dari makhluk yang berdiri dibelakangku ini. Tak pernah sekalipun aku mencoba menengok kebelakang, aku dan bapak-bapak didepanku secara spontan saling tatap dan melotot namun tidak ada kata yang terucap. Banyak dari para penumpang lain yang juga penasaran dan menengok kebelakang untuk mencari tahu suara apa ini, setelah aku amati mereka yang akhirnya tahu sumber suara tersebut juga melotot tertegun tak percaya dengan apa yang dilihat. 15 menit, iya 15 menit akhirnya suara yang tak terdefinisikan itu berhenti bernyanyi, mas-mas bencong mulai meminta uang dari hasil tarik suaranya yang aku pikir harusnya dia yang bayar ke kita semua karena udah dengan sangat terpaksa dan tidak ada pilihan harus dengerin dia nyanyi. Bapak-bapak di depanku mencoba bertanya kepada mas bencong, "Mas namanya siapa? " aku juga penasaran ingin mendengar jawabannya tetapi mas bencong diam dan menjawab "hmmmmmm nama aku ? nama aku siapaaaa ? ini dimanaaaaa? aku amnesiaaaaaaa aduuuh pusing eke cabut dulu yaaaa cyiiiiin" sambil langsung melewati bapak tersebut. Aku yang melihat kejadian itu spontan langsung ketawaaaaaa tapi aku tahan sampai perut sakiiiiiit, bapak didepanku juga ikut ketawa sambil geleng-geleng kepala. Itu tadi makhluk apa ya mas, bapaknya tanya ke aku, aku cuma bisa geleng-geleng kepala.
Kejadian kayak gini bener-bener engga terduga dalam hidup, jujur aku paling takut sama bencong. Ada sejarah kelam tentang bencong yang bikin trauma, semoga engga lagi-lagi deh kejadian kayak gini, amit-amiiiit sumpah!!!!.
Selasa, 16 Juni 2015
Nenek Tua
Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Malang, perjalanan dari Kota Semarang menuju Malang harus ditempuh dengan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan menggunakan kereta. Berangkat dari stasiun Semarang Poncol pada pukul 10.30 malam dan sampai pada pukul 8.30 pagi di stasiun Malang Kota Baru. Sesampainya disana aku menunggu seorang teman yang sebenarnya sedang marah kepadaku, entah dia mau menjemputku atau tidak tapi ternyata temanku masih bersedia menjemputku meski memendam rasa jengkel kepadaku. Menunggu bukanlah hal yang aku suka, namun semakin kita dewasa akan ada banyak hal yang tidak kita suka muncul satu-persatu dan kita mulai menyadari bagaimana harus menyikapinya.
Saat menunggu ini aku gunakan untuk duduk di pojokan halaman stasiun sambil mencoba menghilangkan semua rasa lelah dan kaku dibadan juga rasa ngantuk yang tertahan semalaman tentunya. Ketika aku menunggu tiba-tiba ada seorang nenek tua berbadan gempal memakai baju jarik seperti model nenek-nenek jaman dulu. Nenek ini mencoba mengobrol denganku, awalnya aku hanya menanggapi dengan biasa menjawab dan membalas seperlunya saja obrolan yang dikeluarkan nenek ini. Semakin lama si nenek entah kenapa malah jadi curhat dan menceritakan tentang kesusahan dan permasalahan yang dihadapinya, bahwa dia kehabisan uang untuk pulang karena uangnya telah dicopet saat si nenek naik bus. Melihat si nenek yang mulai sedih dan mengeluarkan air mata aku jadi teringat dengan nenek ku sendiri, dulu nenek ku pernah bercerita, bahwa dulu saat nenek mengantarkan salah satu anaknya untuk mencari kerja dengan uang yang pas-pasan ternyata uangnya habis hanya untuk perjalanan dan makan dijalan bersama anaknya (anaknya disini kalau tidak salah adalah budheku). Nenek ku berusaha meminjam uang kepada orang yang baru ditemuinya dijalan dan akan mengembalikan uang tersebut keesokan harinya, tetapi orang yang dimintai tolong tersebut justru memberikan uangnya kepada nenek tanpa perlu dikembalikan. Karena pernah mendengar cerita inilah aku berpikir, mungkin dulu nenek ku juga sama dengan nenek ini, kasihan sekali. Aku keluarkan sejumlah uang untuk aku berikan kepada si nenek tersebut untuk menolongnya. Si nenek menerima dengan wajah yang masih sedih dan berterimakasih, dan akhirnya pamit untuk pulang.
Beberapa saat kemudian temanku telah datang untuk menjemputku. Pada suatu waktu aku menceritakan tentang si nenek "malang" ini (dalam tanda kutip karena memang neneknya malang) kepada temanku, dan apa yang dikatakan temanku membuatku kaget. Ternyata menurut temanku itu si nenek hanya pura-pura karena dahulu temannya juga ada yang bertemu dengan nenek itu dan diberi uang. Dalam hati aku masih tidak percaya kalau si nenek itu tukang bohong, apa nenek ku dulu bohong juga kayak gitu.......... enggaaaaak mungkiiiiiiin kaaaaan!!!!!. Yah tapi apapun itu kalau niat kita dalam hati memang tulus ingin menolong pasti Tuhan juga tahu, dan menurutku itu yang terpenting. Mungkin nenek-nenek jaman dahulu dengan sekarang udah beda ya, karena terpengaruh tuntutan jaman dan kebaikan hati yang mulai pudar dalam dunia yang semakin keras ini (who knows). Yang terpenting adalah kita harus tetap berbaik hati dan berbuat baik kepada orang lain dengan cara yang kita bisa. Itu............ (kayak MTGW)
Saat menunggu ini aku gunakan untuk duduk di pojokan halaman stasiun sambil mencoba menghilangkan semua rasa lelah dan kaku dibadan juga rasa ngantuk yang tertahan semalaman tentunya. Ketika aku menunggu tiba-tiba ada seorang nenek tua berbadan gempal memakai baju jarik seperti model nenek-nenek jaman dulu. Nenek ini mencoba mengobrol denganku, awalnya aku hanya menanggapi dengan biasa menjawab dan membalas seperlunya saja obrolan yang dikeluarkan nenek ini. Semakin lama si nenek entah kenapa malah jadi curhat dan menceritakan tentang kesusahan dan permasalahan yang dihadapinya, bahwa dia kehabisan uang untuk pulang karena uangnya telah dicopet saat si nenek naik bus. Melihat si nenek yang mulai sedih dan mengeluarkan air mata aku jadi teringat dengan nenek ku sendiri, dulu nenek ku pernah bercerita, bahwa dulu saat nenek mengantarkan salah satu anaknya untuk mencari kerja dengan uang yang pas-pasan ternyata uangnya habis hanya untuk perjalanan dan makan dijalan bersama anaknya (anaknya disini kalau tidak salah adalah budheku). Nenek ku berusaha meminjam uang kepada orang yang baru ditemuinya dijalan dan akan mengembalikan uang tersebut keesokan harinya, tetapi orang yang dimintai tolong tersebut justru memberikan uangnya kepada nenek tanpa perlu dikembalikan. Karena pernah mendengar cerita inilah aku berpikir, mungkin dulu nenek ku juga sama dengan nenek ini, kasihan sekali. Aku keluarkan sejumlah uang untuk aku berikan kepada si nenek tersebut untuk menolongnya. Si nenek menerima dengan wajah yang masih sedih dan berterimakasih, dan akhirnya pamit untuk pulang.
Beberapa saat kemudian temanku telah datang untuk menjemputku. Pada suatu waktu aku menceritakan tentang si nenek "malang" ini (dalam tanda kutip karena memang neneknya malang) kepada temanku, dan apa yang dikatakan temanku membuatku kaget. Ternyata menurut temanku itu si nenek hanya pura-pura karena dahulu temannya juga ada yang bertemu dengan nenek itu dan diberi uang. Dalam hati aku masih tidak percaya kalau si nenek itu tukang bohong, apa nenek ku dulu bohong juga kayak gitu.......... enggaaaaak mungkiiiiiiin kaaaaan!!!!!. Yah tapi apapun itu kalau niat kita dalam hati memang tulus ingin menolong pasti Tuhan juga tahu, dan menurutku itu yang terpenting. Mungkin nenek-nenek jaman dahulu dengan sekarang udah beda ya, karena terpengaruh tuntutan jaman dan kebaikan hati yang mulai pudar dalam dunia yang semakin keras ini (who knows). Yang terpenting adalah kita harus tetap berbaik hati dan berbuat baik kepada orang lain dengan cara yang kita bisa. Itu............ (kayak MTGW)
Jumat, 12 Juni 2015
Perkenalan
Hay, perkenalkan namaku Katon Alif Utama, nama yang kebanyakan orang jaman dulu bilangnya saudara dari Katon Bagaskara. Dulu waktu SD setiap ketemu orang-orang tua yang tanya nama pasti bilangnya Katon Bagaskara yaa, padahal aku sendiri engga ngerti dia itu siapa. Ternyata Katon Bagaskara itu penyanyi tempoe doloe yang terkenal sebelum aku lahir kayaknya, makannya aku sendiri engga begitu ngerti heheee. Nama Katon Alif Utama itu sendiri ada artinya, arti dari namaku Katon dalam bahasa jawa artinya terlihat atau kelihatan, Alif itu diambil dari huruf arab pertama, sedangkan Utama ya artinya pertama karena aku memang anak pertama. Jadi kalau diartikan menjadi terlihat pertama pertama.......... nah bingungkan, mungkin gampangnya artinya terlihat pertama kuadrat heheee. Nama yang memberi orang tua ya disyukuri saja, mungkin orang tuaku pingin anaknya ini jadi yang pertama dalam banyak hal, tapi dulu yang kelihatan hanya nakalnya saja (yang penting terlihat pertama kan :p ). Aku lahir di tahun 1990, yak betul sekali aku anak generasi 90-an, generasi yang sangat menyenangkan yang melewati berbagai pergantian keadaan. Dari mulai main layang-layang sama teman-teman diluar tanpa ada gadget, hingga sekarang ini dimana gadget menjadi alat wajib bagi setiap orang di planet Bumi ini. Dari yang dulu uang saku sekolah hanya Rp. 25 yang udah bisa buat jajan macem-macem dari permen, krip-krip, sama es kenyot udah kebeli dengan uang segitu, sampai ngerasain jaman krisis moneter dimana orang-orang pada susah dan sekarang jamannya kemajuan teknologi dimana semua orang dari orang dewasa sampai anak kecil udah pada bawa gadget atau handphone. Dulu aku bersekolah di TK Mashitoh, TK dengan basis islam karena memang TKnya bersebelahan sama pondok pesantren, tapi sayangnya waktu kecil aku dikeluarin dari TK karena nakal (^_^") ya maklum namanya anak kecil agak susah diatur. Akhirnya pindah ke TK Siwipeni, bangunannya bagaikan bumi dan langit kalau dibandingin sama TK yang dulu, yang ini bangunannya dari gubung >_< tapi justru ditempat itu banyak hal menyenangkan terjadi. Lulus TK masuk ke SD Kutoharjo 1 dimana gurunya galak-galak. Lanjut ke SMP 2 yang merupakan SMP favorit di daerahku dan masuk SMA 1 dimana saat SMA memang saat yang paling menyenangkan dan banyak kenangan. Masih banyak yang ingin aku tulis disini, tapi dilanjut lain waktu aja yaaa..
Langganan:
Komentar (Atom)
