Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Malang, perjalanan dari Kota Semarang menuju Malang harus ditempuh dengan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan menggunakan kereta. Berangkat dari stasiun Semarang Poncol pada pukul 10.30 malam dan sampai pada pukul 8.30 pagi di stasiun Malang Kota Baru. Sesampainya disana aku menunggu seorang teman yang sebenarnya sedang marah kepadaku, entah dia mau menjemputku atau tidak tapi ternyata temanku masih bersedia menjemputku meski memendam rasa jengkel kepadaku. Menunggu bukanlah hal yang aku suka, namun semakin kita dewasa akan ada banyak hal yang tidak kita suka muncul satu-persatu dan kita mulai menyadari bagaimana harus menyikapinya.
Saat menunggu ini aku gunakan untuk duduk di pojokan halaman stasiun sambil mencoba menghilangkan semua rasa lelah dan kaku dibadan juga rasa ngantuk yang tertahan semalaman tentunya. Ketika aku menunggu tiba-tiba ada seorang nenek tua berbadan gempal memakai baju jarik seperti model nenek-nenek jaman dulu. Nenek ini mencoba mengobrol denganku, awalnya aku hanya menanggapi dengan biasa menjawab dan membalas seperlunya saja obrolan yang dikeluarkan nenek ini. Semakin lama si nenek entah kenapa malah jadi curhat dan menceritakan tentang kesusahan dan permasalahan yang dihadapinya, bahwa dia kehabisan uang untuk pulang karena uangnya telah dicopet saat si nenek naik bus. Melihat si nenek yang mulai sedih dan mengeluarkan air mata aku jadi teringat dengan nenek ku sendiri, dulu nenek ku pernah bercerita, bahwa dulu saat nenek mengantarkan salah satu anaknya untuk mencari kerja dengan uang yang pas-pasan ternyata uangnya habis hanya untuk perjalanan dan makan dijalan bersama anaknya (anaknya disini kalau tidak salah adalah budheku). Nenek ku berusaha meminjam uang kepada orang yang baru ditemuinya dijalan dan akan mengembalikan uang tersebut keesokan harinya, tetapi orang yang dimintai tolong tersebut justru memberikan uangnya kepada nenek tanpa perlu dikembalikan. Karena pernah mendengar cerita inilah aku berpikir, mungkin dulu nenek ku juga sama dengan nenek ini, kasihan sekali. Aku keluarkan sejumlah uang untuk aku berikan kepada si nenek tersebut untuk menolongnya. Si nenek menerima dengan wajah yang masih sedih dan berterimakasih, dan akhirnya pamit untuk pulang.
Beberapa saat kemudian temanku telah datang untuk menjemputku. Pada suatu waktu aku menceritakan tentang si nenek "malang" ini (dalam tanda kutip karena memang neneknya malang) kepada temanku, dan apa yang dikatakan temanku membuatku kaget. Ternyata menurut temanku itu si nenek hanya pura-pura karena dahulu temannya juga ada yang bertemu dengan nenek itu dan diberi uang. Dalam hati aku masih tidak percaya kalau si nenek itu tukang bohong, apa nenek ku dulu bohong juga kayak gitu.......... enggaaaaak mungkiiiiiiin kaaaaan!!!!!. Yah tapi apapun itu kalau niat kita dalam hati memang tulus ingin menolong pasti Tuhan juga tahu, dan menurutku itu yang terpenting. Mungkin nenek-nenek jaman dahulu dengan sekarang udah beda ya, karena terpengaruh tuntutan jaman dan kebaikan hati yang mulai pudar dalam dunia yang semakin keras ini (who knows). Yang terpenting adalah kita harus tetap berbaik hati dan berbuat baik kepada orang lain dengan cara yang kita bisa. Itu............ (kayak MTGW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar