Minggu, 08 November 2015

Senin

Banyak banget hal yang jadi waitinglist di kepala beberapa hari ini. mulai dari ngerjain revisian yang harusnya udah ada progres tapi malah nol karena kampus yang tutup beberapa hari karena ada kegiatan, datengin rapat keluarga lah karena bentar lagi ada yang mau nikahan sodaraku, betulin alquran elektrik punya ibu yang rusak dan engga tau tempat betulinnya dimana, ikut undangan tes yang belum aku siapin sama sekali buat besok, belum ngunjungin nenek juga sehabis aku wisuda kemarin, dan berbagai hal lain yang musti aku lakuin. Hari senin, harus udah mulai warming up semangat sama pikiran, mulai gerakin badan nyeselaikan satu-persatu waitinglist di kepala. Yak semoga ada progres yang baik hari ini. Buat kebo guling disana buruan bangun yeee mentang-mentang kemarin sibuk dan kurang tidur sekarang masih molor. Good Morning! semangat pagi guyss....

Jumat, 02 Oktober 2015

Sudah Diputuskan

Ada hal yang memang harus dipikirkan lama, kembali lagi dipikirkan dan berulang terus. Namun akhirnya terkadang bukan keputusan yang baik yang diambil. Ada kalanya keputusan yang diambil justru buruk tidak mengenakkan tapi memang harus dijalani jika ingin baik kedepannya nanti. Ketergantungan yang tanpa disadari sudah lama ada, kebaikan yang ada, pemberian yang biasanya ada, bayangan yang selalu menempel, aku memilih berjalan sendiri terlepas dari semua yang dulu telah ada. Jadi ini yang sudah diputuskan.

Minggu, 20 September 2015

Kucing dan Manusia

            Cerita ini sudah lama ingin aku tulis, tapi entah mengapa baru bisa aku selesaikan sekarang. Banyak kesibukan akhir-akhir ini yang harus diutamakan. Ngerjain laporan yang udah dikejar deadline pengumpulan juga bikin pusing dan capek.
            Dirumah sodaraku memiliki dua ekor kucing, sebenarnya hanya memelihara 1 ekor tapi tiba-tiba kucing luar juga ikut masuk dan udah biasa minta makan disini jadi dianggap saja ada dua ekor. Yang satu warnanya hitam putih udah dipelihara sodaraku sejak masih kecil namanya Kimi, usianya sekarang udah 5 tahun lebih udah tua dan banyak luka bekas tawuran sama kucing lain. Kucing yang satunya lagi adalah kucing dari luar yang ikut makan disini namanya Belang. Satu minggu kemarin entah dari mana si Belang ini pacaran dengan kucing cewek yang asalanya entah dari mana, si Belang dengan kucing cewek yang warnanya juga sama belangnya ini pasti ngikutin si kucing cewek ini, kurang lebih mereka selalu bersama 3-5 hari. Main di kolong mobil berdua, makan juga berdua, lari-lari juga berdua. Beberapa hari si Belang dan pacarnya ini terlihat mesra dan selalu bersama.
            Namun beberapa hari kemudian ada kucing dari kampung sebelah, warnanya putih besar tiba-tiba datang dan si Belang ini engga suka. Akhirnya pada malam harinya si Belang sama si kucing putih ini berantem alias adu cakar semalaman. Dan pada akhirnya si Belang ini kalah berantem ama kucing putih itu. Si Belang lari karena kalah, menjauhi kucing putihnya itu, dan ternyata pacarnya si Belang yang beberapa hari selalu bersama ini langsung mengalihkan hatinya untuk kucing putih yang menang berantem lawan si Belang ini. Akhirnya kucing ceweknya ikut pergi sama kucing putih itu, udah ilang engga tahu kemana ya pergnya.
            Kejadian yang baru aku ngerti adalah ketika kucing kalah berantem dan ceweknya ini lebih milih yang menang berantem, si kucing yang kalah ini galau nyariin pacarnya yang udah pindah ke lain hati. Semenjak kejadian itu si Belang kerjaannya cuma tidur (walaupun memang tiap hari juga kerjaannya tidur) dan lebih engga enaknya lagi si belang ini ngeluarin “meongan rintihan”. Meongan rintihan ini bisa di definisikan seperti meongan biasa tapi dengan suara yang parau penuh kesedihan. Dan masalahnya ini dilakukan hampir sepanjang hari sambil nyari-nyari dimana kucing cewek yang dulu.
            Kalau kita lihat dari cerita di atas yang salah dan bikin situasi seperti ini sebenrnya adalah si Belang itu sendiri. Salah siapa kalah berantem, engga strong lawan kucing kampung lain, akhirnya kucing ceweknya lihat kalau ada yang lebih strong dan lebih milih si Putih dari pada si Belang. Dalam hal ini kucing ceweknya bertindak rasional, ketika ada kucing jantan yang lebih besar lebih kuat maka pilihan terbaik adalah memilih dia. Mungkin dengan berbagai pertimbangan nantinya kalau memutuskan berumah tangga sama si Putih maka kehidupannya akan lebih terjamin dari pada sama si Belang. Mungkin  dia si kucing cewek ini berpikir akan lebih mendapat pemenuhan kebutuhan hidup dicukupin sama si Putih ini, bisa ngasih makanan, ngasih tempat tinggal, rumah, mobil, dan pendidikan buat anak-anaknya kelak. Dan yang kalah dalam hal ini si Belang cuma bisa galau meratapi kepergian kucing cewek yang ditaksir dan dicintainya.

            Bukankah hal ini hampir sama seperti dikehidupan manusia juga ya. Tapi tentu tidak bisa disamakan secara keseluran dan tidak mungkin semuanya sama persis. Karakter yang ada pada kucing cewek ini hampir sama dengan cewek rasional yang ada saat ini. Kalau ditanya akan memilih laki-laki yang seperti apa jika diibaratkan dengan si Belang dan si Putih tentu cewek yang rasional akan memilih cowok yang seperti si Putih yang bisa memenangi pertarungan. Tentu pertarungan disini bukan berantem ala kucing ya, disini berarti harus bisa kuat dan mampu untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan si cewek. Engga peduli kalau pasangannya itu udah kenal lama atau udah pacaran lama kalau ada yang lebih baik dan lebih mampu ya sebaiknya pilih yang lebih baik walaupun baru kenal tentunya. Kalau begitu intinya agar keadaan tidak berjalan dengan buruk maka jadilah seperti si Putih jangan seperti si Belang, jangan kalah dan harus menang.

Sabtu, 12 September 2015

Vie

Vie, inilah nama dari blog yang aku pakai ini,,, awalnya aku bingung mau kasih nama apa, dan akhirnya aku teringat temenku yang anak sastra Perancis akhirnya aku putuskan milih kata dari bahasa Perancis buat namain blog ini.
Arti dari Vie adalah kehidupan, iya blog ini pasti memuat cerita dari kehidupan penulisnya dan kehidupan pasti banyak cerita yang ada disana inilah yang ingin aku masukkan dan tulis di blogku ini.
Terkadang dalam kehidupan banyak hal terjadi mulai dari yang baik sampai yang buruk. Kita pasti ingin menghapus kejadian atau pengalaman buruk yang terjadi dalam hidup kita, tapi itu engga mungkin. Di blog ini kadang ada postingan yang aku rasa kurang baik atau terlalu dalam memakai perasaan aku hapus setelahnya, namun apa yang dirasain juga bisa dihapus oleh penulisnya ? tentu aja enggak......
Di postingan terakhirku sebelum ini sudah  aku hapus, aku udah mutusin buat engga nulis lagi karena alasan tertentu. Tapi disini karena ada alasan tertentu yang aku sendiri belum yakin pasti mulai nulis lagi di blog ini. Mungkin ketidak pastian itu ya seperti kehidupan ini ya selalu tidak pasti.
Banyak ide yang ada di otak selama waktu berhenti menulis, bahkan ada yang udah lupa ide-ide yang ada dulu. Postingan yang ada disini bukanlah tulisan yang berisi informasi penting atau pengetahuan. Aku jamin disini isinya engga jelas, hanya ketikan-ketikan pemikiran atau imajinasi yang ada. Aku juga engga ngerti siapa yang bakal baca tulisan-tulisan yang engga jelas seperti ini. Kadang kita hanya ingin berbagi cerita dalam kehidupan, kadang sudah ada yang memiliki tempat untuk berbagi.. aku ? hmmmmmm kadang bisa berbagi kalau hubungan lagi baik kadang juga engga kalau lagi ada masalah. Menulis apa yang ada dalam hati bisa melegakan hati itu sendiri, jika senang maka bisa bikin lebih senang lagi, bila sedih kadang bisa sedikit melegakan hati atau berharap orang yang bikin sedih tau dan bisa baik lagi.

Vie adalah kehidupan, kehidupan dari aku penulis blogku ini..............

Sabtu, 11 Juli 2015

Untuk Seseorang

Hari ini mendung, awan menyelimuti langit tempatku berada. Rasa sakit yang tak tertahankan namun tak mengeluarkan air mata, hanya mengalir di dalam tidak nampak diluar.

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaring benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal dalam sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.
Bagaimana mungkin.


Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.

Jumat, 03 Juli 2015

Yang Aku Tinggalkan

Aku dulunya memiliki sebuah rencana, rencana yang sudah ku perhitungkan matang-matang, dengan simulasi keadaan terburuk, dan dengan waktu yang relatif terbatas, untuk mencapai sesuatu. Rencana ini aku yang membuatnya, bersama seorang temanku yang memperhatikanku saat aku membuat rencana ini. Dia sebagian besar hanya melihat, dan mengangguk-angguk dengan apa yang aku katakan. Aku jelaskan kepadanya tentang rencanaku ini, dari mulai tahap awal, estimasi waktu, situasi keadaan, sampai kemungkinan hasil akhir, dia hanya bergumam dan mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang aku tuliskan. Hal yang aneh pada akhirnya adalah temanku melaksanakan semua rencana awal yang aku susun sendiri, sedangkan aku justru entah mengikuti rencana yang mana. Aku baru sadar ternyata aku tidak mengikuti rencanaku sendiri, sedangkan temanku dengan gigihnya melakukan apa yang aku katakan. Sepertinya membuat solusi untuk orang lain itu mudah, namun untuk diri sendiri kadang tidak seperti yang aku kira. Hal yang benar-benar membedakan adalah dia lurus menjalankan apa yang aku katakan, sedangkan aku lebih memilih jalan berliku yang lebih jauh untuk mendapat hasil yang sama namun dengan jalan yang berbeda.
Perasaan seperti ini muncul mungkin karena rasa serakah dan menginginkan segala sesuatunya, padahal aku tahu tidak mungkin untuk mendapatkan semua yang kita inginkan sekaligus.
Melihat dirinya mendapat apa yang aku rencanakan membuatku merasa seharusnya aku juga seperti itu, namun mungkin bagi dirinya hal yang sama juga muncul dalam pikirannya, mungkin dia juga ingin merasakan perjalanan berliku yang penuh pengalaman.
Kedua hal ini dibedakan melalui cabang yang memang tidak mungkin untuk mendapatkan keduanya. Aku membuat jalan sebelah kiri yang terlihat lurus dan langsung menuju ketempat tujuan ketika dilalui, namun ternyata aku lebih penasaran dengan jalan sebelah kanan yang entah itu jalan seperti apa, jalan yang berkelok melalui berbagai tempat dan pengalaman baru.
Keputusan sudah diambil, dan inilah hasilnya dari apa yang aku lalui dan aku peroleh. Selamat untukmu temanku yang menjalankan rencanaku sampai akhir, dimana aku justru meninggalkannya.